Rabu, 10 Mei 2017 - 11:07:40 WIB
Dalam Kerapuhan Tersimpan Benih Kekuatan
Diposting oleh : Kaji Zoe
Kategori: Inspirasi - Dibaca: 251 kali

“Hiduplah baik bersama para Suster,

mereka adalah keluargamu,

mereka pengganti orangtua dan saudara-saudaramu”

(Sr. Afra, PK)

Ketika saya merenungkan tentang   hidup  Komunitas saya  teringat  akan  pesan ayah  ketika  saya  meninggalkan rumah saat  saya memutuskan untuk bergabung dengan Puteri Kasih  “hiduplah baik bersama para Suster, mereka adalah keluargamu,  mereka pengganti orangtua dan saudara-saudaramu” Pesan itu melekat erat dalam ingatan saya. Pesan yang sederhana dan memiliki makna yang dalam ini, tentu bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Saya akan bergabung dalam suatu tarekat yang tent saja  memiliki latar belakang budaya yang  dan dengan karakter yang berbeda. Bisakah saya mewujudkan pesan ayah saya? Itulah pertanyaan yang bergejolak dalam batin saya.

Perpaduan antara budaya, latar belakang keluarga dan pengalaman  yang berbeda, bisa menjadi hambatan bisa juga  memperkaya, tergantung dari cara pandang setiap pribadi. Saya sadar bahwa saya berasal dari keluarga  dimana  di dalam keluarga anak-anak  bebas mengatakan apa adanya baik diantara anak-nak maupun dengan orang tua.  Tetapi ketika saya  masuk komunitas, saya belajar memahami setiap karakter, bahwa tidak semua anggota komunitas bisa memahami cara saya. Peka untuk menangkap setiap reaksi yang muncul, adalah salah salah satu cara untuk mengontrol diri.  Spontanitas   bisa menimbulkan salah paham, dan berbagai prasangka yang bisa menghambat hidup bersama. Hal yang penting  untuk untuk dapat membina relasi yang baik dalam komunitas adalah berusaha mengenal setiap karakter yang ada, bagaimana  cara saya bersikap dengan masing-masing karakter yang ada.

Sering perjalanan waktu, ketika saya diutus ke komunitas, diutus ke sebuah  komunitas saya semakin menyadari membangun komunitas yang ideal  yang diimpikan semua anggota komunitas bukanlah hal yang mudah. Ada dua sisi yang bertentangan  dalam diri  seperti: impian-realita, keberanian-ketakutan,  kesedihan-kegembiraan, cinta-benci, kepercayaan-kecurigaan, persaudaraan-individualisme dan sebagainya. Semuanya berjalan  beriringan  seperti halnya gandum yang bertumbuh bersama dengan ilalang (Mat 13:24-30), demikian juga dua sisi yang bertentangan itu akan terus bertumbuh bersama. Dua sisi yang bertentangan itu dapat menimbulkan konflik dalam hidup bersama. Inilah situasi yang mewarnai  kehidupan komunitas. Betapapun demikian di dalam komunitas  seperti inilah setiap pribadi berusaha menghayati semangat para Pendiri. Saya diutus di sebuah  komunitas bukanlah atas pilihan saya, dan saya  hidup  bersama dalam satu komunitas bukan pula atas kehendak saya. Hanya satu keyakinan yang meneguhkan saya “semua tergantung  bagaimana saya menyikapi setiap pengalaman yang ada.”

Saya menyadari  komunitas  terbentuk dari berbagai macam pribadi, namun disatukan oleh kasih.  Setiap  pribadi  menyumbang sikap hati yang tulus dalam berbagi hidup, pengertian dan saling membantu.  Betapapun kecil sumbangan tersebut bahkan juga tak begitu  tampak.   “Semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama” (Kis 2:44).  Setiap anggota komunitas dengan caranya masing-masing memberi kontribusi besar atau kecil, telah mewarnai perjalanan hidup komunitas.  Setiap pribadi berusaha menawarkan dukungan bagi anggota lain, menciptakan suasana kasih dan damai bagi saudara yang sedang mengalami kesusahan karena kesulitan  yang dialami. Demikian juga kita dengan terbuka mengungkapkan pergumulan, kesulitan, penderitaan, keterpurukan, kelemahan, sakit, keletihan dan lain-lain yang dialami kepada sesama saudara sekomunitas.

Sebagai Puteri Kasih di dalam komunitaslah saya menghidupi kharisma para Pendiri. Bila saya menolak untuk menerima bahwa anggota komunitas adalah perpaduan dari kebaikan dan keburukan, keberhasilan dan kegagalan, kebencian dan cinta, maka saya akan terus membangun dinding yang tinggi yang dapat memisahkan diri dari orang lain bahkan menjadikan yang lain sebagai orang asing. Bila saya menyadari bahwa saya adalah makluk yang rapuh, dan telah melukai saudara sekomunitas, maka dengan rendah hati untuk berekonsiliasi dengan diri dan anggota komunitas. Sarana rekonsiliasi dalam komunitas adalah hal yang penting untuk mengembalikan lagi relasi yang telah rusak. Membebaskan kita dari segala prasangka yang buruk tentang saudara kita sekomunitas.  Dalam komunitas pula penghakiman dan pemberian lebel pada pribadi tertentu turut mewarnai hidup komunitas. Dua sisi  pribadi bisa menjadi penghalang dan penyalur rahmat Tuhan bagi setiap anggota komunitas. Santa Louisa menganjurkan untuk selalu memandang sesama Suster dengan hati yang baik: “Semoga Anda mempunyai semangat cinta kasih sehingga anda tidak mudah menghakimi orang lain.

Untuk mengatasi pelbagai kerapuhan dalam hidup bersama dibutuhkan sikap pengampunan yang tanpa batas. Sikap ini merupakan salah satu perwujudan dari tindakan kasih kepada sesama. “Bukankah engkau pun harus mengasihi kawanmu, seperti Aku telah mengasihi engkau?” (Mat 18:21-35). Pengampunan yang dikehendaki Yesus adalah pengampunan yang menghidupkan’ Pengampunan yang menghidupkan merupakan pernyataan cinta Allah yang tak bersyarat. Ungkapan cinta yang tak bersyarat ini menjadikan setiap pribadi sebagai diri yang dicintai dan berharga sekalipun berada dalam kelemahan. “Komunitas seperti itu dibangun hari demi hari melalui pemberian diri dan kesungguhan masing-masing suster, Komunitas seperti itu adalah tempat penuh kehangatan yang mendukung pertumbuhan  manusiawi dan rohani” (K.32:a)

Di dalam kerapuhan itu pula ada masih tersimpan benih-benih  baik yang  untuk membangun hidup komunitas. Di dalam kerapuhan dan ketakberdayaan manusiawi   setiap pribadi berusaha untuk memberikan diri yang terbaik dalam komunitas,  mencintai setiap anggota dengan berbagai cara, melalui perhatian kecil dan sederhana  seperti mendengarkan, suport, nasihat, kepercayaan dan keterbukaan. Bagi Louisa tak dapat dipungkiri   kerapuhan diri terkadang menghambat  niat-niat baik. Support adalah sesuatu yang membangun kesatuan dalam komunitas “ Saya menganjur-kan kepada Anda dan kepada semua Suster agar memiliki sikap ramahtamah yang besar dan saling mendukung. Hal ini sangat perlu agar kalian dapat bersatu sebagai Puteri Kasih yang sempurna” 

 

Sr. Afra Wajang, PK

Komunitas Andrea Kediri




0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)