Rabu, 10 Mei 2017 - 10:59:59 WIB
Menyesuaikan Diri Dengan KEHENDAK ALLAH
Diposting oleh : Kaji Zoe
Kategori: Inspirasi - Dibaca: 383 kali

“Membuka telinga untuk mendengarkan-Nya, membuka mata untuk melihat kehadiran-Nya, membuka mulut untuk mewartakan kemuliaan-Nya dan membuka hati  sebagai tempat kediamanNya”

Memasuki masa pembinaan sebagai Postulan menjadi awal pengolahan diri dan pembinaan hati yang menampakkan begitu banyak ketidakteraturan yang ada dalam batin saya. Berbekal pengertian – pengertian yang saya terima melalui pelajaran – pelajaran, KGP, dan  pengalaman sehari - hari, saya mulai menata kembali pribadi saya yang rapuh agar menjadi lebih kuat khususnya dalam penyangkalan diri untuk bisa menyesuaikan diri dengan kehendak Allah sebab apa yang baik menurut pandangan manusia belum tentu baik menurut Allah tetapi apa yang baik menurut pandangan Allah pasti yang terbaik dan benar bagi manusia.

Menyesuaikan diri dengan kehendak Allah bearti memperca-yakan diri pada Penyelenggaraan Ilahi seperti yang dikatakan Santo Vinsensius dan yang dianjurkan Santa Louisa dalam suratnya kepada Monsieur L’abbe de Vaux bahwa “ Dalam segala persoalan kita harus mempercayakan diri kita kepada Penyelenggaraan Ilahi, juga untuk segala sesuatu yang akan terjadi…”, inilah yang juga saya coba untuk lakukan ditengah – tengah pergulatan batin yang masih menampakkan kesenjangan antara realita dan kesadaran. Realitanya, sekalipun saya menyadari keberadaan diri saya dengan apa adanya ternyata saya masih tetap mengalami kesulitan untuk dapat menghidupkan kesadaran tersebut dalam kesaksian hidup sehari – hari terlebih dalam hidup berkomunitas.

Syukur kepada Tuhan karena sekalipun saya berkeras hati dalam mendengarkan-Nya, Dia tidak pernah meninggalkan saya, justru Dia begitu setia menguatkan dan membimbing saya, sehingga saya pun dapat melihat bahwa pergulatan – pergulatan yang saat ini saya alami adalah ruang yang memungkinkan saya untuk menumbuhkan dan menghayati keutamaan – keutamaan yang ada  dalam Serikat Puteri Kasih yang adalah :

  1. Kesederhanaan

Hidup berkomunitas di masa pembinaan sebagai Postulan menyajikan beranekaragam latihan – latihan untuk dapat menghayati keutamaan – keutamaan dalam Serikat Puteri Kasih, yang salah satunya adalah kesederhanaan. Dengan latar belakang keluarga yang pernah mengalami kekurangan menjadi dasar yang cukup kuat bagi saya untuk menghayati kesederhanaan, juga pengalaman menjadi anak asrama adalah jembatan yang sudah memberi kesempatan kepada saya untuk menyesuaikan diri dengan realita yang ada. Latar belakang keadaan ekonomi keluarga dan pengalaman menjadi anak asrama memberikan sumbangan terbesar bagi saya dalam menggunakan anugerah – anugerah Tuhan dengan sederhana, saya menjadi lebih terbuka dalam memandang perbedaan antara kebutuhan dan keinginan serta hal – hal yang kecil dalam usaha menghayati kesederhanaan.

Masa Postulan yang saat ini saya jalani menjadi lembar ujian yang menguji kesederhanaan dalam hidup bersama yang telah saya pelajari. Mulai dari hal – hal kecil, kesederhanaan saya diuji, misalnya dalam memasak dan pemenuhan keperluan pribadi. Dalam kegiatan memasak khususnya menentukan menu, kerapkali dalam relasi hidup komunitas ada percikan – percikan pandangan kesederhanaan yang berbeda yang sering mengundang hawa nafsu untuk memaksakan kehendak, begitupun dengan pemenuhan keperluan pribadi kerap digoda oleh kemewahan – kemewahan yang menawarkan kepuasan diri. Meskipun memiliki pandangan yang berbeda tentang kesederhanaan tetapi ada satu kesamaan menarik yang melebur perbedaan itu yaitu kesadaran akan penyangkalan diri dari kenikmatan. Dari sisi yang lain, saya melihat bahwa dalam perbedaan ini, Allah menawarkan kerjasama untuk menyempurnakan kesederhanaan ini agar menjadi seperti yang Ia kehendaki, yang oleh Santo Vinsensius dalam konferensinya diungkapkan bahwa sederhana itu : tidak memakai kata – kata yang muluk – muluk, tidak keras kepala tidak terikat pada pendapat sendiri, tidak ngotot, terbuka dan tulus dalam kata – kata. Konferensi Santo Vinsensius ini menampakkan dengan jelas makna kesederhanaan yang bukan hanya tentang tindakan tetapi juga kata – kata.

      2. Kerendahan Hati

Berdasarkan pergulatan yang saya alami kurang lebih 3 bulan dalam masa pembinaan, saya memandang kerendahan hati sebagi dasar yang paling utama dalam pembinaan karena dengan kerendahan hati akan memungkinkan kita mampu untuk mendengarkan ( terbuka ) yang mana keterbukaan adalah bagian penting dalam proses pembentukan. Saya memang masih berada jauh dari kerendahan hati tetapi bukan bearti saya berhenti berjuang, saya tetap berjuang hanya dalam perjuangan ini saya masih teramat sering jatuh pada kesombongan, sikap rendah diri dan kebebalan hati. Menumbuhkan kerendahan hati adalah kesulitan terbesar yang harus saya perjuangkan karena keutamaan ini adalah keutamaan yang bertentangan dengan kodrat kita artinya untuk dapat mencapai keutamaan ini harus mau menyangkal diri dari kehormatan dan kemuliaan seperti yang diungkapkan Santo Vinsensius dalam konferensinya, selain itu juga karena saya menyadari bahwa sebagian besar yang ada dalam diri saya adalah hal – hal yang bertentangan dengan kerendahan hati.

Pribadi saya yang rapuh dan emosi yang tidak stabil serta keadaan hati yang sudah tidak lagi utuh ( retak )  menjadi penghambat terbesar yang menghalangi saya untuk menjadi rendah hati dalam hidup komunitas. Saya menjadi mudah marah dan tidak terima ketika dipandang rendah, saya terkadang kurang sopan dalam komunikasi, saya menjadi sulit untuk memberikan pujian kepada sesama, bahkan untuk melakukan hal yang sederhana sekalipun, seperti menyapa saya masih merasa kesulitan, saya menjadi lebih cenderung menuntut, yang pasti ada banyak hal negative yang menyelimuti kerendahan hati sehingga tidak tampak.

Syukur kepada Tuhan karena Dia mengenal setiap umat – Nya dengan teramat baik termasuk dalam mengenal saya. Dengan keberadaan saya yang begini adanya, yang memiliki banyak kelemahan, yang tidak layak dan tidak pantas, tetapi diberi tempat yang begitu indah untuk dapat berjalan bersama Dia. Hal ini tampak dari kehadiran Icha, Sr. Imelda, dan Sr. Rosalie yang berada dekat dengan saya dalam hidup sehari – hari sebagai saudara. Mereka adalah cerminan kesetiaan Tuhan dalam mendampingi saya, karena sekalipun saya sering bersikap egois, marah – marah, kasar, keras kepala, dsb, mereka dengan kerendahan hatinya tetap sabar, terbuka untuk memaafkan, menguatkan, menghibur, dan tetap penuh kelembutan hati. Dari kesaksian hidup merekalah yang hampir setiap hari saya alami dalam hidup bersama, mematahkan kecenderungan saya yang kerap menjadikan kelemahan sebagai pembelaan diri karena pada dasarnya setiap manusia itu memiliki kelemahan karena dengan kelemahan itulah dimaksudkan supaya manusia hanya akan bergantung kepada Allah saja dan tidak akan bermegah atas dirinya.

           3. Cinta Kasih

Hidup dalam persaudaraan cinta kasih memang merupakan hal yang mudah untuk dikatakan dan dimengerti tetapi untuk disadari dan dipraktekkan dalam hidup sehari – hari bukanlah perkara yang mudah. Saya adalah pribadi yang sulit dalam hidup persaudaraan cinta kasih karena masih terlalu sering jatuh dalam kecemburuan dan keegoisan.

Merenungkan tentang keutamaan cinta kasih ini, saya teringat akan kelemahan terbesar yang menghalangi saya dalam mengasihi sesama yaitu sikap mendiamkan. Saya sendiri sempat merasa bingung/tidak mengerti dengan kecenderungan negative saya yang satu ini, bahkan kecenderungan ini juga menjadi kekuatiran terbesar dalam diri saya ketika mau menanggapi panggilan Tuhan sebagai Puteri Kasih dan  juga saya berpikir bahwa saya tidak akan mampu melampaui kelemahan ini tapi yang pasti dari kecenderungan ini tampak jelas bahwa tingkat kedewasaan saya masih belum matang. Ketika tiba saatnya saya jatuh lagi dalam kecenderungan ini untuk yang pertama kali di masa Postulan saya benar – benar merasa sangat lelah karena ketika saya mencoba menyangka,l berkali – kali saya harus jatuh kembali. Namun, disaat yang bersamaan Tuhan juga kembali meyakinkan saya bahwa : “ cukuplah kasih karunia – Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna “. Kecenderungan mendiamkan ini membuat jarak dalam berelasi, saya tidak lagi bisa menyapa, saya tidak lagi bisa tersenyum, saya tidak lagi bisa berkomunikasi dan dampak dari kecenderungan mendiamkan ini 100 % kesia – siaan belaka, sama sekali tidak berguna.

Mencintai berarti siap sedia untuk berkorban karena cinta adalah pengorbanan seperti halnya yang dilakukan oleh Allah untuk umat-Nya, Ia mengutus Puteranya ke dunia untuk menyelamatkan manusia sekalipun manusia itu berdosa. Tanda dari mencintai adalah perhatian, penerimaan, dan pemberian diri. Tanda cinta yang paling sederhana dan mudah untuk dilakuakan dari ketiga hal ini adalah memberi perhatian yang wujudnya bisa melalui sapaan, kunjungan, menghibur, mendengarkan, dsb. Lalu penerimaan wujudnya bisa dengan memaafkan, memahami, menghargai, sabar,dsb. Sedangkan pemberian diri wujudnya bisa dengan memberikan pertolongan, mengusahakan yang terbaik, bersikap murah hati,dsb. Memang, sekalipun hal – hal terlihat sepele tetapi jikalau tidak diterima atau dilakukan dengan cinta maka tidak akan menjadi bermakna.

Dalam relasi hidup berkomunitas, saya melihat, merasakan, dan menerima cinta yang begitu besar dari Icha dan para suster, hal ini tampak dari perhatian, kesabaran, kelembutan, dan pengampunan yang tentu menuntut pengorbanan. Saya sadar bahwa kelemahan – kelemahan yang saya miliki mau tidak mau juga menjadi batu sandungan bagi sesama di komunitas dalam mewujudkan persaudaraan cinta kasih. Tetapi cinta Tuhan yang tampak melalui merekalah yang menjadi salah satu sumber kekuatan bagi saya untuk terus berjuang melepaskan diri dari kecenderungan–kecenderungan yang bermuara pada kepuasan diri sendiri yang dapat menceraikan hidup bersama.

 

“Karena itu, sebagai orang – orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemah lembutan dan kesabaran’

(Kolose 3 : 2)

 

Postulan Yohana




0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)