Rabu, 10 Mei 2017 - 10:45:17 WIB
Membiasakan Hal Biasa, yang (terkadang) Tidak Biasa dalam Hidup Komunitas
Diposting oleh : Kaji Zoe
Kategori: Inspirasi - Dibaca: 77053 kali

Membiasakan Hal Biasa, yang(terkadang) Tidak Biasa dalam Hidup Komunitas

 “Allah telah menyusun tubuh kita sedemikian rupa, sehingga tidak terjadi perpecahan dalam tubuh, melainkan semua anggota saling memperhatikan. Karena itu, jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita. Jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita.”

(1 Kor 12:24b.25-26)

Kita meninggalkan keluarga kita dirumah, untuk menjumpai keluarga baru kita di Komunitas Serikat Puteri Kasih. Bukan hanya sekedar keluarga baru saja, tapi keluarga untuk selamanya.

Dalam sebuah kehidupan berkeluarga, tentunya terdapat sebuah kebiasaan-kebiasaan yang mengisi keseharian anggotanya. Mulai dari kebiasaan yang utama, penting, saklek, mengikat, sampai kebiasaan yang dianggap remeh-temeh. Sangat bermacam-macam kebiasan yang muncul dalam sebuah keluarga, termasuk dalam keluarga baru kita (khususnya saya) di Komunitas Serikat Puteri Kasih ini. Dalam keluarga baru saya ini (Hidup Komunitas), saya menemukan kebiasaan-kebiasaan baru yang tentunya jauh berbeda dengan kebiasaan yang ada di keluarga saya dirumah.

Ada empat kebiasaan dalam Hidup Komunitas di Serikat Puteri Kasih yang menjadi perhatian khusus saya, karena mau tidak mau saya harus belajar membiasakan-nya dan cukup membuat saya harus struggling supaya kebiasaan ini bisa menjadi bagian dari hidup saya di Komunitas. Kebiasaan-kebiasaan itu adalah salam, pamit, terima kasih, dan maaf. Memang sekilas keempat kebiasaan tersebut nampak seperti hal yang biasa dan cenderung masuk kategori yang remeh-temeh, dan memang pada awalnya saya berpikir ”Halah, tinggal ngucapin kata-kata gitu aja lho..” tapi seiring berjalannya waktu dengan harus melakukan hal-hal tersebut secara berulang-ulang dengan orang-orang itu saja pasti bukanlah hal yang mudah karena akan menimbulkan suatu kejenuhan terlebih bagi kita yang tinggal didalam Komunitas kecil,sehingga muncul pertanyaan “Ngapain to diulang-ulang terus, wong tiap hari ya ketemu. Sudah pasti tahu kebiasaannya”. Tentu saja kalimat-kalimat tersebut akan muncul kalau kita hanya sekedar memberi salam, berpamitan, mengatakan terima kasih, dan meminta maaf tanpa benar-benar menyadari apa yang kita ucapkan dan apa sih makna dibalik kebiasaan salam, pamit, terima kasih, dan maaf  itu.

  • Salam

Dalam memberi salam kepada para suster atau teman seangkatan di Komunitas memang terlihat seperti hal yang sepele dan biasa buat untuk dilakukan. Seperti;  “Selamat pagi, suster!”, “Selamat datang, suster!”, “Proficiat ya, suster!”, “Selamat pesta, suster!” dan sebagainya. Semua ucapan salam tersebut akan terasa hambar bahkan terkesan hanya sebuah basa-basi  saja yang harus dilakukan karena kita melakukannya bukan dengan sebuah kesadaran, namun karena kita diharuskan untuk melakukan kebiasaan itu. Dalam Konferensinya pada tanggal 1 Januari 1644, St. Vinsensius menegaskan betapa pentingnya saling memberi salam karena, “Kita semua adalah bait Allah. Jika kita memberi salam kepada bait-bait yang jasmaniah, patung dari batu, dan sebagainya, mengapa kita tidak akan saling memberi salam, kita yang mempunyai hubungan yang demikian erat dengan Allah? Oh, Puteri-puteriku, hendaknya anda saling memberi salam dalam kebebasan yang penuh.” (V.E. Bieler CM, 1986, Konferensi-Konferensi St. Vincentius Kepada Para Puteri Kasih hal 53)

Dari kutipan St.Vinsensius dalam konferensinya, kita bisa menangkap bahwa pentingnya memberi salam kepada sesama suster sebagai wujud hormat yang ramah tamah kita akan bait Allah yang tinggal dalam diri kita dan dengan kebebasan penuh yang dimaksud adalah kita memberikan salam dengan tulus dari hati kita tanpa adanya  unsur paksaan atau keharusan. Dan untuk mewujudkan sikap hormat yang ramah tamah akan bait Allah yang tinggal dalam diri kita, maka kita harus memiliki kerendahan hati yang besar.

Maka dengan memberikan salam kepada sesama  suster , sebetulnya kita telah belajar suatu yang hal yang besar, yaitu belajar memiliki kerendahan hati yang besar agar kita bisa memberikan perhatian dan hormat kepada bait allah yang tinggal dalam diri kita semua. Tidak mudah memang, namun dengan keterbukaan hati kita dan bimbingan Rahmat Allah kita pasti dimampukan untuk memiliki kerendahan hati yang besar.

  • Pamit

Sama halnya dengan memberikan salam, berpamitan juga bisa menjadi sebuah ajang basa-basikalau kita tidak tahu betapa pentingnya berpamitan kepada Suster Abdi (sebagai pemimpin komunitas) atau Suster pendamping/Formator (bagi para Formandi). Berpamitan bukan hanya dalam konteks “Suster, kami pergi dulu ya…”, “Suster, kami sudah pulang.”  tapi juga berpamitan dalam hal aktivitas yang akan kita lakukan. Misalnya; pamit/ijin dulu kepada suster pendamping kalau kita mau ganti ban sepeda onthel yang sudah tipis, atau pamit tidak bisa ikut rekreasi karena sedang kurang sehat.

Kebiasaan berpamitan memang bertujuan agar Suster Abdi atau Formator kita mengetahui kemana kita pergi atau aktivitas apa yang akan kita lakukan. Namun, dibalik itu semua yang terutama adalah dengan kebiasaan pamit kita diajarkan untuk mampu bersikap terbuka kepada suster kita (terlebih dalam masa formasio).Namun tak jarang kita menjadi kurang bijak dalam menggunakan “papan pengumuman” untuk berpamitan kepada suster kita dengan dalih ”waktunya sudah mepet, ngga keburu kalau nyariin Suster Abdi-nya/ Formator-nya dulu”, padahal kita males muter-muter untuk mencari Suster Abdi/formator karena kita mau praktisnya saja atau kita malas bertatap muka dengan Suster Abdi/Formator karena merasa kurang cocok dengan beliau. Sehingga kebiasaan pamit itu hanya berakhir pada “papan pengumuman” saja tanpa ada nilai keterbukaan didalamnya.

Jika kita mampu terbuka dengan hal-hal kecil dalam keseharian kita, maka kita pun bisa terbuka kepada suster kita bila kita tengah menghadapi sebuah masalah yang besar. Dan dengan bersikap terbuka kita meminimalisir adanya kesalah pahaman yang seharusnya tidak perlu terjadi karena masalah sepele dan dengan adanya keterbukaan, kita tidak menimbulkan suatu prangsangka buruk yang sebetulnya tidak pernah terjadi, Selain sebagai wujud dari keterbukaan, berpamitan juga bermaksud sebagai bentuk hormat kita kepada Suster Abdi/Formator kita, layaknya dalam sebuah keluarga sebagai bentuk menghormati orang tua, kita selalu berpamitan jika akan pergi kesuatu tempat atau ketika kita hendak melakukan aktivitas. Demikian halnya dengan kehidupan di komunitas kita.

 

  • Terima Kasih

Mengucapkan terima kasih memang hal yang mudah  ya dan sering kita lakukan. Tapi tunggu dulu, sering kali kita hanya mengucapkan terima kasih bila kita diberi sesuatu atau kita mendapatkan pertolongan yang besar dalam hidup kita. Sering kali kita lupa mengucapkan terima kasih kepada sesama suster atas tindakan-tindakan sederhana yang dilakukan kepada kita, seperti mengucapkan terima kasih karena telah diangkatkan jemurannya saat hujan turun, menyiapkan peralatan makan bersama saat hendak makan pagi/siang/malam, mengucap-kan terima kasih saat suster yang bertugas memasakkan makanan untuk bersama, dan sebagainya. Tak jarang kita menganggapnya hal-hal tersebut sebagai hal yang lumrah atau biasa “wong itu sudah jadwalnya dia tugas,kok” dan kita terlalu fokus dengan hal-hal yang besar sehingga kita sedikit canggung jika mengucapkan terima  kasih atas tindakan-tindakan sederhana yang diberikan kepada kita. Sebetulnya dalam hal ini, mengajarkan kita untuk menghidupi semangat kesederhanaan dalam hidup kita baik secara berpikir atau bertindak.

  • Maaf

Terkadang tanpa disadari kita suka ”absen” dalam hal meminta maaf, terlebih apabila kesalahan/kelalaian yang kita lakukan itu bagi kita masih dalam tahapan “wajar” dan ngga dosa besar banget, seperti; datang terlambat saat lektur bersama atau ibadat bersama, lupa pamit, terlambat mengumpulkan jurnal (bagi formandi), lupa mengunci pintu, dan sebagainya.

Sebetulnya bukan masalah besar atau kecilnya kesalahan yang kita buat sehingga kita harus meminta maaf, toh kesalahan yg kita lakukan tetap membuat orang lain merasa tidak nyaman. Dan kita cenderung menyepelekannya sehingga menjadikan kita lama-kelamaan pribadi yang cuek dan tidak peka. Hal itu semua didasari karena rasa gengsi yang melekat pada diri kita masih terlalu besar, sehingga kita sulit sekali untuk menyangkal diri kita, mengalahkan ego kita, dan mau belajar untuk rendah hati. Apalagi jika kesalahan yang kita lakukan itu terhadap junior kita di Komunitas, tak jarang perasaan gengsi ini menyelimuti hati kita sehingga timbulah jurus andalan kita untuk ngeles Yang sudah ya sudah, ngga usah di perpanjang. Gitu aja kok repot.”.

Padahal maksud dari kebiasaan meminta maaf bila melakukan kesalahan itu bukan hanya sekedar membuat perasaan orang yang kita lukai lega saja, tapi lebih kepada kesadaran diri atas apa yang telah kita perbuat, kita juga belajar untuk lebih rendah hati lagi dengan melawan keegoisan, gengsi diri kita, dan belajar menghormati pribadi lain dalam hidup berkomunitas, baik pribadi yang lebih tua, sebaya, bahkan yang lebih muda dari kita. Sehingga saat mengucapkan maaf atau meminta maaf kita benar-benar hadir dan sadar akan tindakan yang telah kita perbuat, bukan hanya sekedar ngucapin “Eh, sorry ya”, “Maaf ya..”  tanpa benar-benar kita sadari. Memang untuk melawan diri sendiri bukanlah hal yang mudah, karena musuh terbesar dalam hidup kita adalah diri kita sendiri. Tapi saya yakin dan percaya, apabila kita mau terbuka oleh bimbingan Roh Kudus dalam hal penyangkalan diri dan kerendahan hati, pasti kita akan dimampukan untuk mengatasi itu semua.

Keempat kebiasan tersebut dimaksudkan sebagai wujud sikap hormat yang penuh keramahan terhadap sesama suster atau teman seangkatan di dalam hidup komunitas, bukan sikap hormat yang bersifat peraturan. Tetapi, lebih pada sikap hormat yang didasarkan atas keramahan yang sesungguhnya dari hati kita sebagai wujud Cinta Kasih  kita kepada sesama suster di Komunitas.

Sering kali kita begitu luwes mewujudkan cinta kasih kita kepada orang miskin (OM) dengan memberikan sikap hormat kita yang penuh dengan keramahan kepada “majikan” kita. Namun, terkadang sulit bagi kita untuk melakukan hal tersebut kepada sesama suter/teman seangkatan atau bahkan junior kita di Komunitas, dengan berbagai alasan yang melatar belakangi-nya. Kita lupa bahwa orang miskin terdekat kita adalah keluarga kita sendiri, yang ytak lain dan tak bukan adalah para suster dan teman-teman seangkatan kita di Komunitas. Dan, tujuan utama menjadi seorang Puteri Kasih adalah melayani OM. Mari, sebelum kita melayani OM yang diluar sana, kita harus bisa melayani OM terdekat kita di dalam Komunitas , sebagai wujud sikap hormat kita yang penuh keramahan sejati dan bukan sebuah paksaan.

“Keramahtamahan mengalir dari hati. Penghargaan bersumber dari pengertian, karena sikap itu mengalir dari pemahaman nilai seorang pribadi.”     (St. Vincentius – 2 Juni 1658)

 

Postulan Yessica Farda

 




0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)