Rabu, 10 Mei 2017 - 10:28:47 WIB
Back to Nature
Diposting oleh : Kaji Zoe
Kategori: Komunitas - Dibaca: 318 kali

Oh betapa membahagiakan  Serikat hanya berkata hanya untuk melayani mereka yang paling miskin dalam segala hal! Pada akhirnya  serikat ini tidak pernah menyimpang gaya hidup atau mengubah gaya hidup miskinnya..... biarkan mereka pergi melayani orang miskin secara jasmani dan rohani....andai hal ini berlalu tanpa menarik  perhatian, apakah menjadi soal...

(St. Louisa de Marillac)

Komunitas Rosalie Rendu Cilincing bisa dikatakan  sebagai komunitas yang berada di kota Metropolitan. Hiruk pikuk kota dengan segala kemacetan, tanpa  kecuali ramainya pemberitaan media mulai dari kasus penistaan agama oleh Ahok sampai kunjungan Raja Salman dari Saudi Arabia yang menggoncang dunia. Situasi yang serba canggih dengan kemajuan alat-alat kesehatan yan ditawarkan oleh dunia bahkan menjadi lebih mudah dengan cara on line.

Kesehatan menjadi bagian yang penting dalam hidup, di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat.  Jadi kami para suster berusaha untuk menjaga kesehatan. Menjaga kesehatan tidak harus hanyut dalam kecanggihan elektronik dan kami tetap yakin akan tawaran yang diberikan Allah. Allah memberikan “pilihan” untuk kembali ke alam ciptaan, dengan kata lain kami memilih untuk menjaga kesehatan dengan kembali ke alam.

Sebagai komunitas kami mencoba menggali semangat para pendiri terutama St. Louisa, dimana St. Louisa sangat memperhatikan kesehatan diri maupun para Suster. Di dalam komunitas, para Suster diajak  untuk berbagi pengetahuan mereka. “Diharapkan agar seorang suster mengajari rekannya apa yang ia butuhkan agar tahu merawat orang sakit dan mendidik anak. Tidak diharapkan agar seorang Suster menyimpan pengetahuan untuk dirinya sendiri. Telah dijelaskan dengan gamblang kepada kepada Sr. Henriette Gesseaume, yang sangat ahli menyiapkan obat-obatan yang berbeda. Ia meminta berbagi pengetahuannya mengenai tanam-tanaman dan berbagai bedak dengan bedak Claude Carre”  (Surat 161, hal. 183).  Seringkali kesehatan diidentikan dengan  yang mahal meskipun sekarang sudah ada BPJS maupun ASKES. Melalui BPJS dan ASKES orang miskin mendapatkan pelayanan kesehatan secara gratis tetapi pelayanan sangat lambat. Pengalaman yang saya alami, ketika mengantar seorang nenek yang sesak nafas ke IGD rumah sakit Koja. Kami masuk  dengan pendaftaran umum tetapi setelah semalaman di IGD  baru ditangani dokter sekali  dan hanya diberi infus. Selama semalam nenek masih di ruang IGD. Usia 84 tahun tentu saja membuatnya tidak kuat, maka anaknya memutuskan  membawa pulang dan merawatnya di rumah.

Mengingat pentingnya kesehatan  dalam komunitas, para Suster menjaga kesehatan dengan cara alami, yaitu kembali ke alam. Herbal menjadi salah satu cara mencegah untuk penyakit-penyakit umum, seperti asam utat, darah tinggi, kolesterol maupun diabetes. Kami mengkonsumsi herbal karena mudah dicari dan murah. Seperti daun kelor, daun salam, daun sirsat, kulit manggis, daun Afrika,  bawang merah dan bawang putih dimakan mentah (untuk lalapan). Saat ini kami  juga sedang  menjalani terapi dengan lintah air.

Lintah masuk kategori cacing yang menjijikan, dihindari orang dan enggan untuk menyentuhnya. Namun sekarang setelah berbagai penelitian panjang banyak ditemukan zat/enzim dalam lintah yang sangat luar biasa dan baik bagi kesehatan manusia. Dalam proses terapi lintah, ketika lintah menghisap darah  lintah memasukan air liur yang mengandung beragam zat kimia aktif alami. Yang terjadi ketika lintah mengisap selama 1-2 jm yaitu terjadi campuran yang komplek antara darah dengan zat-zat seperti Hirodin (anti beku darah) anti infeksi (untuk menjaga  terjadinya infeksi).

Selama kami menjalani terapi lintah, kami juga menjaga pola makan yang akan sangat mendukung selam proses pengobatan.  Di komunitas, saya mencoba mengawali terapi dengan lintah ini. Saya menjalani terapi pengobatan struma (pembesaran  kelenjar gondok yang jenisnya  besar ke dalam). Bagian leher saya diperiksa Bapak Nur (terapis) dicari bagian akar dan tepat pada titik  penyakit sengaja dilukai dengan stik jarum, darah yang keluar digunakan  untuk merangsang lintah agar lengket dan menghisap darah dibagian titk penyakit. Untuk penyakit Struma saya harus menjalani terapi 4x. Bekas gigitan lintah akan berhenti keluar darahnya selama  1 hari, mengeluarkan banyak darah dan terasa gatal. Sr. Hendria mengikuti terapi penyakit Vertigo dan Sr. Angela terapi kaki yang sering keram.

Melayani di kota Metropolitan dengan polisi udara yang tinggi disertai aktifitas yang padat menuntut  kami untuk menjaga kesehatan. Selain menjaga pola makan, yang terpenting menjaga  pola  hidup, situasi  komunitas yang mendukung dan doa  yang dapat menciptakan jiwa yang sehat.  Selama menjalani terapi lintah, membawa kami pada  kharisma hidup pendiri terutama  St. Louisa yang menekankan kesehatan  dengan pengobatan tradisional dan kami yakin akan mengantar  kehidupan panggilan komunitas sejalan dengan kharisma Pendiri. “ Oh betapa membahagikan  Serikat hanya berkata hanya untuk melayani mereka yang paling miskin dalam segala hal! Pada akhirnya  serikat ini tidak pernah menyimpang gaya hidup atau mengubah gaya hidup miskinnya..... biarkan mereka pergi melayani orang miskin secara jasmani dan rohani....andai hal ini berlalu tanpa menarik  perhatian, apakah menjadi soal...

Sr. Sari PK

Komunitas Rosalie Rendu – Jakarta

 

 

 

 




0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)